Ketika “Boleh” Mengalahkan “Benar”
Oleh : Iswadi M.Yazid
Kita hidup di zaman ketika hampir semua pilihan punya alasan untuk dibenarkan. Ketika seseorang melakukan sesuatu yang dipersoalkan, jawaban yang sering terdengar adalah, “Memangnya tidak boleh?”, “Itu kan hak saya”, “Orang lain juga melakukannya”, atau “Tidak ada aturan yang melarang.” Kalimat seperti ini memang tidak selalu salah. Setiap orang memiliki hak untuk memilih dan menjalani kehidupannya. Islam pun tidak melarang manusia menikmati kebebasan. Namun, ada pertanyaan yang sering kita lupakan: apakah semua yang boleh dilakukan berarti baik dan layak dilakukan? Pertanyaan ini penting karena kehidupan kita terus berubah. Di lingkungan pergaulan, keluarga, tempat kerja, maupun media sosial, batas antara kebebasan dan kebablasan semakin tipis. Sesuatu yang dulu dianggap kurang pantas, karena sering dilihat dan dilakukan, akhirnya dianggap biasa. Sesuatu yang dulu membuat orang merasa malu, perlahan dianggap sebagai bagian dari kehidupan.
Di sinilah budaya permisif tumbuh, yaitu sikap yang semakin mudah menerima sesuatu hanya karena dianggap sebagai pilihan pribadi, sudah menjadi kebiasaan, atau tidak secara langsung dilarang. Dalam Hukum Islam, kita mengenal istilah mubah, yaitu sesuatu yang pada dasarnya boleh dilakukan. Adanya ruang mubah menunjukkan bahwa Islam tidak mengatur kehidupan manusia dengan larangan yang serba ketat. Manusia diberi ruang untuk bekerja, berdagang, berkreasi, menggunakan teknologi, memilih gaya hidup, dan mengembangkan berbagai hal selama tidak bertentangan dengan ajaran agama. Tetapi perlu dipahami bahwa boleh tidak selalu berarti pilihan terbaik.
Ada sesuatu yang boleh dilakukan, tetapi belum tentu baik bagi diri kita. Ada sesuatu yang tidak haram, tetapi mungkin tidak bermanfaat. Ada pula sesuatu yang secara hukum diperbolehkan, tetapi jika dilakukan secara berlebihan justru dapat membawa masalah. Karena itu, seorang Muslim seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Apakah ini boleh?” tetapi juga bertanya, “Apakah ini baik?”, “Apakah ini bermanfaat?”, “Apa dampaknya bagi saya dan orang lain?”, dan “Apakah ini sesuai dengan nilai agama?” Di sinilah pentingnya memahami hubungan antara fikih, akhlak, takwa, dan ihsan. Fikih membantu kita mengetahui mana yang boleh dan mana yang tidak boleh.
Akhlak mengajarkan bagaimana kita bersikap. Takwa membuat kita sadar bahwa Allah selalu mengetahui apa yang kita lakukan. Sementara ihsan mengajarkan kita untuk memilih dan melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Jadi, menjadi orang yang baik bukan hanya soal menghindari yang haram, tetapi juga belajar memilih yang lebih baik ketika kita memiliki banyak pilihan. Tantangan ini semakin terasa di era media sosial. Setiap hari kita melihat berbagai gaya hidup, cara berpakaian, pola pergaulan, hiburan, bahasa, dan pandangan hidup yang berbeda-beda.
Semuanya bisa masuk ke dalam layar kita hanya dalam hitungan detik. Teknologi tentu bukan masalah. Teknologi hanyalah alat. Persoalannya adalah bagaimana kita menggunakannya dan bagaimana kita menyaring apa yang kita lihat. Kita sering menganggap sesuatu benar karena banyak yang melakukannya. Kita menganggap sesuatu baik karena sedang viral. Kita menganggap sesuatu layak ditiru karena mendapatkan banyak perhatian. Padahal, yang populer belum tentu benar, yang viral belum tentu baik, dan yang banyak dilakukan belum tentu layak diikuti. Di sinilah agama dibutuhkan sebagai kompas. Islam tidak datang untuk mematikan kebebasan manusia, tetapi untuk memberikan arah agar kebebasan tidak berubah menjadi kebablasan.
Kita boleh berbicara, tetapi harus bertanggung jawab terhadap ucapan. Kita boleh menggunakan media sosial, tetapi harus bertanggung jawab terhadap apa yang kita lihat, komentari, dan sebarkan. Kita boleh menentukan pilihan hidup, tetapi tetap harus memikirkan dampaknya terhadap diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Dengan kata lain, kebebasan selalu memiliki tanggung jawab. Dalam Hukum Islam, ada konsep maqasid al-syariah, yaitu tujuan utama dari syariat. Sederhananya, aturan agama memiliki tujuan untuk menjaga hal-hal penting dalam kehidupan manusia, seperti agama, jiwa, akal, keluarga atau keturunan, dan harta. Karena itu, ketika kita menghadapi suatu persoalan, kita tidak cukup bertanya apakah sesuatu boleh atau tidak. Kita juga perlu bertanya, “Apa akibatnya?” Apakah membawa manfaat atau justru membawa kerugian? Apakah memperkuat keluarga atau justru membuat keluarga semakin rapuh? Apakah menjaga kehormatan manusia atau justru merendahkannya? Apakah membuat kita menjadi lebih baik atau justru membawa kita semakin jauh dari nilai agama? Cara berpikir seperti ini membuat Hukum Islam tidak hanya berbicara tentang aturan, tetapi juga tentang tujuan dan kemaslahatan. Ada pula prinsip sadd al-zariah, yang secara sederhana berarti mencegah jalan yang dapat membawa kepada kerusakan. Pesannya mudah dipahami: jangan hanya melihat apa yang terjadi sekarang, tetapi pikirkan juga apa yang mungkin terjadi setelahnya.
Banyak hal yang awalnya terlihat kecil dan tidak berbahaya, tetapi jika terus dilakukan dapat menjadi kebiasaan dan akhirnya membawa masalah. Karena itu, manusia perlu belajar melihat akibat dari setiap pilihan. Di sinilah takwa menjadi penting. Ada perbedaan antara orang yang tidak melakukan sesuatu karena takut ketahuan dan orang yang tidak melakukannya karena sadar bahwa Allah selalu melihatnya. Kalau seseorang hanya takut kepada manusia, ia mungkin akan berubah ketika tidak ada yang mengawasi. Tetapi jika seseorang memiliki takwa, ia tetap berusaha menjaga dirinya meskipun sedang sendirian. Tidak ada kamera, tidak ada orang tua, tidak ada guru, tidak ada teman, tetapi ia tetap tahu bahwa Allah mengetahui apa yang dilakukan.
Inilah kekuatan agama dalam membentuk pengendalian diri. Lebih dari itu, Islam mengajarkan ihsan, yaitu berusaha melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Jika fikih bertanya, “Apakah ini boleh?”, maka ihsan mengajak kita bertanya, “Apakah ini pilihan terbaik?” Misalnya, seseorang memiliki waktu luang dan bebas memilih apa yang ingin dilakukan. Banyak hal yang boleh. Tetapi orang yang memiliki ihsan akan berpikir, “Dari semua pilihan yang ada, mana yang paling bermanfaat?” Begitulah seharusnya kita menggunakan kebebasan. Bukan sekadar mencari apa yang masih boleh, tetapi berusaha memilih apa yang paling baik. Karena itu, menghadapi budaya permisif tidak cukup hanya dengan mengatakan “jangan”. Kita juga harus menjelaskan alasan mengapa sesuatu perlu dihindari dan mengapa sesuatu yang baik perlu dipilih. Masyarakat membutuhkan pemahaman agama yang mudah dipahami dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Anak-anak tidak cukup diberitahu mana yang boleh dan tidak boleh, tetapi perlu diajarkan alasan di baliknya. Keluarga harus menjadi tempat pertama untuk belajar tentang tanggung jawab, adab, dan batas diri. Sekolah dan lembaga pendidikan perlu mengajarkan ilmu sekaligus karakter. Masjid dan lembaga keagamaan perlu menghadirkan dakwah yang mampu menjawab persoalan nyata masyarakat. Para pendakwah dan tokoh agama juga perlu memberi ruang untuk bertanya, berdialog, dan berdiskusi sehingga agama tidak hanya terdengar sebagai kumpulan larangan. Di dunia digital, kita juga membutuhkan kemampuan untuk menyaring informasi.
Tidak semua yang muncul di layar harus dipercaya. Tidak semua yang viral harus dibagikan. Tidak semua yang menarik harus diikuti. Kita perlu membangun kebiasaan bertanya sebelum menerima sesuatu: apakah benar, apakah baik, apakah bermanfaat, dan apakah sesuai dengan nilai yang kita yakini? Pada akhirnya, persoalan budaya permisif bukan hanya tentang semakin banyaknya pilihan yang kita miliki, tetapi tentang kemampuan kita memilih dengan bijak. Kita membutuhkan hukum untuk mengetahui batas, akhlak untuk menjaga sikap, takwa untuk mengendalikan diri, dan ihsan untuk memilih yang terbaik. Pertanyaan “Apakah ini boleh?” tetap penting, tetapi jangan berhenti di sana. Setelah mengetahui bahwa sesuatu diperbolehkan, tanyakan pula: “Apakah ini benar? Apakah ini baik? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini menjaga martabat saya dan orang lain? Apakah ini mendekatkan saya kepada Allah?” Sebab tidak semua yang boleh harus dilakukan. Tidak semua yang populer harus ditiru.
Tidak semua yang viral harus dipercaya. Dan tidak semua yang legal otomatis baik. Kita hidup di zaman yang menawarkan banyak pilihan, tetapi justru karena itu kita membutuhkan kompas yang kuat. Agama hadir bukan hanya untuk mengatakan “jangan”, tetapi juga untuk mengajarkan bagaimana memilih, mengapa harus memilih yang baik, dan untuk apa kebebasan digunakan. Pada akhirnya, kualitas seseorang bukan dilihat dari seberapa banyak hal yang bisa ia lakukan, tetapi dari seberapa bijak ia memilih di antara banyak pilihan yang tersedia. Ketika “boleh” mulai mengalahkan “benar”, yang sedang kita pertaruhkan bukan hanya sebuah perilaku, tetapi arah kehidupan. Karena itu, di tengah dunia yang semakin terbuka, kita membutuhkan manusia yang tetap memiliki batas, mampu mengendalikan diri, dan berani memilih yang benar meskipun pilihan yang salah terlihat lebih mudah dan lebih menarik.wallahu a’lam